Pada lorong sebuah kampus, terlihat Sari dan Ridwan sedang berbicang akrab, kedua sahabat itu terlihat serius membicarakan sesuatu, tiba-tiba Sari terdiam, dia tak berkata apapun, bibirnya mengatup rapat, namun wajahnya menyiratkan sesuatu, dia melihatnya, tetapi dia bersikap acuh, sudah terbiasa dia melihat dan mendengar suara mereka, dia tak lagi merasa takut. Baginya, mereka adalah sebagian pengisi hari-hari sepinya.
“Tolong…tolong,”
Sari bersikap seolah tak mendengar kalimat itu, dia tetap berbincang dengan Ridwan, nada suaranya santai dan tenang. Suara meminta tolong itu terdengar semakin memelas, nada suaranya terdengar semakin putus asa, Sari merasa iba, setelah berpamitan pada Ridwan, dia masuk ke dalam kamar mandi wanita, tempat itu adalah satu-satunya tempat teraman baginya.
Sari diam, dipejamkan kedua matanya, ditariknya nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskannya perlahan, setelah agak tenang, Sari membuka kedua matanya, dia melihat ke sekelilingnya, setelah memastikan jika di kamar mandi itu hanya dia sendiri, diapun menatap tajam ke arah kaca, dalam kamar mandi.
Sorot mata Sari terlihat tajam menghujam, laksana sebuah kilatan pedang tajam, tidak ada senyum tersungging di bibirnya, dia terlihat serius,”Baik, kamu ingin berkata apa?”
Perlahan dari kaca muncul asap putih,perlahan gumpalan asap itu semakin jelas terlihat hingga menyerupai tubuh seorang wanita, dan perlahan terlihat seorang wanita muda berpakaian putih yang penuh dengan noda darah, wajahnya pucat pasi, seputar matanya lebam, melihatnya, sama sekali tidak ada rasa takut di wajah Sari, melainkan rasa kesal, karena dia merasa terganggu.
“Tolong saya,”
“Kamu mau minta tolong apa? Saya, tidak bisa berjanji, sebab, saya bukan orang sakti yang bisa mengabulkan segala permintaanmu,”
Wanita dalam kaca itu menunduk, wajahnya terlihat sedih. Diam-diam Sari merasa iba, tapi dia juga harus menggunakan logika, tidak semua yang datang padanya, harus dia bantu.
“Saya hanya ingin jasad saya disempurnakan,”
Tiba-tiba,kaca menjadi buram, bayangan wanita tadi menghilang dan berganti dengan suasana yang berbeda. Terlihat sebuah kamar, di dalamnya ada seorang wanita muda dan lelaki muda yang terlibat pertengkaran, tiba-tiba tubuh wanita itu didorong ke atas kasur, dengan membabi buta, lelaki muda itu memukuli si wanita, hingga tubuhnya babak belur, dengan sekuat tenaga wanita itu melawan, namun nahas, tiba-tiba lelaki itu memukul wajah wanita itu, hingga membuatnya terjungkal, tanpa ampun lelaki itu mengambil bantal dan menutup wajah wanita muda itu, terlihat tangan si wanita mengapai-gapai meminta pertolongan, namun, akhirnya dia diam tak bergerak.
Lelaki muda itu, terlihat bingung, dia diam di depan tubuh wanita muda yang sudah tak bergerak. Tengah malam, terlihat lelaki muda itu keluar dari kamar, dan membawa tubuh wanita muda itu ke sebuah halaman, disana dia mengali tanah, dan memasukkan jasad wanita tadi kedalam tanah.
Sari terhenyak, sungguh dia benat-benar merasa iba, dia yakin wanita itu merasa tersiksa dan bingung pada siapa dia harus meminta tolong. Meski terasa berat Sari akhirnya mengiyakan. Terlihat wajah wanita itu tersenyum, ada rasa lega yang terpancar disitu.
Berbekal informasi dari wanita itu, Saripun menuju ke tempat yang ditunjukkan olehnya, Saripun tiba disebuah perumahan yang terletak di pinggir kota, diapun berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat putih, rumah tersebut berpagar tinggi, kanan dan kiri rumah itu terlihat sepi, tiba-tiba seorang satpam perumahan berhenti, dengan tatapan curiga satpam tersebut memandang ke arah Sari.
“Mbak nya ada perlu apa ya?”
Sari terkejut, namun segera dia bisa menguasai dirinya kembali, dengan tenang Sari bertanya pada satpam tersebut, “Maaf pak, apa benar ini rumah mbak Deva?”
Sekarang ganti pak Satpam yang berusia paruh baya itu terkejut, dia bergegas turun dari motornya, dan berjalan kearah Sari.
“Mbak kenal bu Deva?”
“Ehm, bagaimana ya…”
“Begini, sekitar sebulan yang lalu, suami bu Deva melaporkan kalau istrinya menghilang,apa mbak nya ketemu dengan bu Deva?”
Sari diam, baginya pertanyaan ini bukanlah sesuatu yang asing, beberapa kali dia memperoleh pertanyaan serupa.
“Bapak, suami bu Deva ada?”
“Nah, sepertinya tidak, sejak melaporkan istrinya hilang, pak Ambri juga ikut menghilang, katanya sih pulang ke kampungnya,”
“Kampung?”
“Iya, Pak Ambri berasal dari kampung, di daerah jawa tengah sana,yang punya rumah ini, ya bu Deva.Ini rumah warisan orangtua bu Deva,”
Raut wajah Sari menjadi serius, dia tidak ingin terlalu mendengar kisah percintaan mereka berdua termasuk silsilah keluarga mereka. Dia hanya ingin segera menyelesaikan tujuan utamanya, yaitu menemukan jasad wanita muda yang ternyata bernama Deva.
“Bapak, saya bisa minta tolong temani saya masuk kedalam, ada pesam dari saudara mbak Deva untuk mengambil suatu barang dari sana,”
“Saudara mbak Deva? Saudara yang mana ya?”
“Ehm, itu…saudara sepupu mbak Deva yang kebetulan teman saya, dia sendiri tinggal di luar negeri, katanya sih dia butuh sekali barang itu, makanya saya disuruh kesini,” tergagap Sari berusaha menjelaskan pada pak Satpam. Dalam hati Sari berdoa, semoga satpam itu tidak curiga padanya.
Beruntung bagi Sari, tanpa bertanya lagi, satpam itupun mau membantunya.
“Kita coba ya mbak, semoga mas Ambri tidak menutup…”
Praang….
Belum selesai kalimat pak satpam diucapkan, tiba-tiba terdengar suara pagar rumah seperti dilempar, begitu kerasnya, hingga membuat Sari dan pak Satpam terkejut alang kepalang. Tanpa diduga, pagar itu terbuka sendiri, seolah ada yang membukanya dari dalam.
Satpam itu mejadi semakin kebingungan dan heran melihat semua kejadian ganjil tersebut, dengan berhati-hati keduanya masuk ke dalam rumah. Terlihat halaman itu sudah ditumbuhi oleh ilalang dan rumput liar, pemandangan itu menambah kesan angker dan mencekam.
Sari dan pak satpam memasuki rumah tersebut dengan berhati-hati, beberapa kali pak satpam menoleh ke arah Sari, wajahnya terlihat cemas, namun Sari dengan tenang terus masuk ke dalam rumah, seolah tahu pasti kemana tujuannya, Sari menoleh, terlihat Deva berdiri di samping rumah, tanpa berusaha untuk masuk ke dalam rumah, Sari mengikuti petunjuk Deva.
Benar saja, di halaman belakang terlihat sebuah gundukan tanah yang atasya ditanami bunga, namun, bunga tersebut ditanam secara asal. Sari menghela nafas panjang,sepertinya itu adalah tempat jasad Deva dikuburkan.
Brugh…tiba-tiba tubuh Sari ditabrak oleh pak Satpam, hingga nyaris membuat Sari jatuh terjerembab.
“Maaf mbak,”
Belum juga Sari menjawab, tiba-tiba mata pak Satpam tertuju pada gundukan tanah tadi, dengan penuh rasa curiga, dia langsung menuju ke arah tanah tersebut. Setiba di hadapan gundukan tanah tersebut, tiba-tiba satpam tersebut menutup hidungnya.
“Bau bangkai!”
Sari terdiam, matanya menatap tajam kearah gundukan tanah itu, di sampingnya terlihat Deva berdiri dengan wajah sendu, Sari tahu dia sudah mencapai tujuannya. Diapun tahu, jika tugasnya masih akan berlanjut untuk membantu Deva, karenanya dia hanya terdiam dan mengumpulkan alasan dan cara untuk memberi penjelasan yang tepat pada pihak kepolisian nanti.
MeutiBulan
#Lomba Menulis Cerpen Horor Akhir Tahun